Header Ad

Di Tengah Desing Mesiu 

9 November 2018
7 Views

 

CERPEN : Masriadi Sambo |Republika | 4 November 2018

 

Kami duduk selonjor di teras rumah, setelah berziarah, ke pemakaman Ayah. Bersandar ke dinding papan dicat warna hijau muda. Emak duduk persis di samping kananku. Jarinya menggelung suntil, menyelipkan ke sela gusi.

Tujuh hari lalu, Ayah meninggalkan kami untuk selamanya. Pergi ke alam sana, menghadap sang pencipta. Hari ini kami menziarahi makam Ayah. Semalam hujan turun menghujam bumi tanpa ampun. Tanah di makam susut dan hari ini kami merapikannya. Membentuk tanah itu menggunung layaknya sebuah makam.

Mata Emak tertuju ke kampil, merogoh kacip untuk mengupas pinang. Lalu menoleh ke jalanan, sembari tangannya mengupas pinang. Emak bisa mengupas pinang pakai kancip tanpa melihat ke arah pinang. Tatapannya kosong. Anggannya melambung ke belasan tahun lalu.

Saat itu, kampanye kemerdekaan daerah ini baru bermula setelah lama mati suri. Pertemuan dalam rapat akbar di sejumlah tanah lapang kerap digelar. Emak tak mau tahu urusan politik negeri. Baginya, urusan politik urusan kaum elit. Bukan rakyat.

Kata Aceh harus merdeka itu sudah didengar Emak sejak remaja. Ritus sepuluh tahunan isu itu terus bergelora. Selalu terjadi perlawanan antara gerilyawan dengan aparat keamanan negara per sepuluh tahun. Dan ditumpaskan lewat desing meusiu bersahutan membelah malam. Menerabas awan.

Saat itu, aku masih di bangku SMP. Abangku di bangku SMA. Kami juga ikut rapat akbar, menyaksikan pengibaran bendera bulan sabit bintang penuh khidmat. Ribuan orang, tua-muda, siswa, pelajar, mahasiswa, dan santri tumpah ruah di lapangan nan luas itu. Bahkan turut berdemonstrasi menuntut kemandirian daerah ini. Lepas dari pemerintah pusat.

Emak tak pernah melarang. Namun, satu pagi, Cupo Bidah bercerita ke Emak, bahwa Ayah berdebat sengit dengan Apa Mae. Ayah menolak paham bahwa perjuangan harus memanggul senjata. Bagi Ayah, perjuangan sesungguhnya adalah mensejahterakan keluarga, tetangga, dan seluruh masyarakat desa. Sebaliknya Apa Mae berjuang untuk kesahteraan rakyat sejatinya lewat perlawanan fisik. Memanggul senjata.

Cerita Cupo Bidah itu menanggu Emak. Tak pernah kulihat wajah seserius itu menyimak kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir hitam Cupo Bidah. Kepalanya mengangguk tanpa paham.

Setelah mendengar cerita itu, Emak bahkan membatalkan niatnya untuk menanam cabai di kebun belakang rumah. Termangu duduk di lantai semen teras. Menunggu Ayah pulang dari warung kopi.

“Tadi kenapa berdebat dengan Apa Mae?”

Ayah menceritakan kronologisnya. Namun Emak menolak. Baginya berdebat begitu tak penting. Situasi keamanan yang tak menentu ini bisa membuat keamanan Ayah terganggu. Nyawa taruhannya.

BIsa jadi gerilyawan menganggap ucapan Ayah sebagai penolakan akan perjuangan fisik melawan pusat. Bagi aparat negara ucapan Ayah juga bisa ditafsir sebagai dukungan untuk kaum gerilyawan.

Mereka berdiskusi panjang. Malam hari, kami dikumpulkan semua. Tujuh anak duduk di ruang tamu beralaskan tikar pandan. Emak memutuskan Ayah akan merantau ke kampung halamannya. Sedangkan kami tetap bertahan di kampung ini.

“Sampai mati pun aku tak akan tinggalkan kampung ini. Tangan ini yang menebas pohon besar, membuat jalan, parit hingga kebun di desa ini. Tak kan kutinggalkan kampung yang kubangun sendiri,” kata Emak.

Malam itu, malam terakhir kami melihat Ayah. Dia pergi ke kampung halamannya di kaki Gunung Leuser. Di sana, Ayah kembali ke pekerjaan lamanya. Buruh bongkar-muat barang.

***

Selepas kepergian Ayah, kami melewati berbagai peristiwa. Satu hari, Jamil, putra angkat Emak datang ke rumah. Peluh memenuhi tubuh. Tangan kanannya menekan sekuat tenaga perut. Warna merah keluar lewat sela jari.

“Mak, tolong obati saya. Baru saja tertembak di kaki Gunung Beuriget oleh aparat kemaanan negara yang menyisir hutan.” Jamil memelas, nafasnya tersengal, berhembus sangat pelan.

Emak memerintahkanku membawanya ke kamar.  Di atas dipan bambu. Membuka baju dan celana Jamil, menggantikannya dengan kain sarung. Tubunya lunglai, tak begerak. Pingsan.

Wanita yang paling kuhormati itu memeriksa luka di perut sisi kanan putra angkatnya. Ayah Jamil telah lama meninggal dunia. Sejak kecil, Emak merawatnya, bahkan tak membedakan antara aku dan Jamil.

Belakangan, Jamil ikut latihan militer bersama gerilyawan di pinggir Sungai Kereto, nun jauh di jantung hutan. Lama tak terlihat Jamil di desa, dan tiba-tiba wajahnya muncul dengan luka tembak menganga.

“Untung, peluru hanya mengelupas kulit perutnya. Tak merobek usus. Seminggu ini dia akan pulih,” kata Emak mengusap rambut ikal Jamil yang menjuntai ke bahu.

***

Situasi keamanan kian tak menentu. Aparat negara berseragam loreng, padu padan warna hijau, hitam dan coklat menyisir kampung nyaris setiap menit. Rasanya tak ada sejengkal tanah pun yang bebas dari pantauan mereka.

Mobil tank, panser, hingga berbagai senjata laras panjang seperti dalam  aksi film laga terlihat saban hari ketika mereka memeriksa perumahan warga, melewati semak-semak, dan sebagiannya menapaki pelan jalan desa.

“Ibu ada lihat gerilayawan lewat sini?” tanya seorang militer, bersurban di kepala. Lengan kanannya dibalut pita  hitam.

“Gerilyawan itu apa ya Nak?”

“Oh …Ibu tak tahu arti gerilyawan. GAM bu. GAM, gerakan separatis itu ibu pernah lihat?”

Seulas senyum tersunging di bibir wanita ringkih itu. Emak mencoba menghilangkan rasa takutnya diintrogasi tentara. Sepanjang hidupnya, berhubungan dengan tentara dengan cara diintrogasi baru hari itu dirasakannya. Ketika remaja, sebagai perawat, dia turut membantu tentara yang terluka dalam aksi massa tahun 1965.

“Kalau saya bilang tak pernah lihat, Nak Tentara pasti bilang saya bohong. Saya pernah lihat. Mereka lewat-lewan di jalan ini sesekali,” jawab Emak.

Sang tentara tertawa, dan mengakui jawaban jujur Ibu. Di dalam kamar, Jamil menggigil ketakutan. Melihat intrograsi tentara pada  Emak dari sela dinding kamar. Tangannya memegang senjata, panjangnya sedepan. Menurut Jamil senjata itu hanya bisa meledak satu-satu. Manual, karena dibuat sendiri olehnya.

“Boleh kami masuk ke rumah?” tanya tentara itu lagi. Emak bahkan tak memperlihatkan perubahan raut muka. Wajahnya terlihat santai. Berupaya setenang mungkin. Di dalam rumah dia tahu putra angkatnya terbaring lemah. Lengkap dengan senjata di bawah bantal.

Dua tentara masuk ke rumah, memeriksa mulai dapur hingga tempat tidur.  Mendengar ucapan Emak angkatnya, Jamil pun pura-pura tidur. Sang ibu mengusap rambutnya, meminta Jamil bangun karena ada tamu.

“Tak usah Bu. Tak usah. Biar saja dia tidur. Kalau lagi demam memang bawaan tubuh kita mau istirahat terus,” jawab sang tentara.

Dalam hati, Emak terbahak. Jamil bak lolos dari lubang jarum. Bagi Emak, batas umur manusia di bumi sudah tercatat sejak lahir. Dan, hari itu, belum habis masa waktu Jamil tinggal di bumi. Seandainya tentara itu memeriksa bantal Jamil, pasti putranya hari itu sudah ditangkap. Tak tertutup kemungkinan ditembak mati.

Detik demi detik hari itu terasa begitu panjang. Setelah memeriksa rumah, militer bahkan beristirahat di teras. Membuka nasi ransum dan makan siang.

Pria bersurban yang memimpin kelompok kecil militer itu bahkan membuka pita hitam di lengannya. Di sana terlihat luka menganga, mulai menghitam.

“Sini ibu obati, sebentar saya ambil obat dulu,” kata ibu masuk ke dalam rumah.

Militer bahkan semakin curiga pada Emak. Kenapa ada wanita renta, di pelosok Aceh persis di pinggiran hutan memiliki kemampuan mengobati luka. Emak seakan paham pertanyaan di kepala para tentara itu pun menjelaskan, ketika sebelum meletus peristiwa 65, dimana aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI) dilarang, dia mengeyam pendidikan perawat.

Memasuki kelas tiga, dia menikah dengan bapak. Atas nama cinta, pendidikan keduanya ditinggalkan. Saat itu, Ayah sedang pendidikan tentara, di samping markas latihan itulah kampus Emak berada.

Mereka jatuh cinta. Lalu lari dari pendidikan masing-masing dan menikah. Karena itu, Emak bisa mengobati luka, perkakas pengobatan berupa perban, penghilang rasa nyeri pun selalu ada di rumah.

Tentara itu menaruh hormat. Bahkan mencium tangan Emak tanda takzim. Merasa Emak juga pejuang bangsa ini, membantu tentara era tahun 65.

***

Pemeriksaan demi pemeriksaan militer terus dialami Emak. Karena itu pula, pendengarannya sangat terlatih. Begitu ada orang berjalan di luar rumah, walau malam hari, dan emak tertidur nyenyak, pasti dia segera bangun.

 

Menggerehem sebagai kode di dalam rumah ada penghuninya. Satu hal yang dikahwatirkan Emak selama masa perang ini, militer akan membakar rumahnya. Gerehem itu sebagai kode di dalam rumah ada penghuni dan jangan dibakar.

Terkadang militer geram akan tindakan gerilyawan yang kerap menyerang mereka tiba-tiba, setelahnya lari ke pemukiman warga. Saat itulah, api membumbung dari rumah yang dicurigai milik gerilyawan. Namun, jika digerehem, maka militer hanya memeriksa seisi rumah.

Matahari baru saja tenggelam ketika aku membawakan surat dari Ayah. Surat itu dikirim ke sekolah, dan tiba siang tadi. Emak membaca seksama. Raut wajahnya datar. Nyaris tanpa ekspresi. Aku tak membaca sedikit pun isi surat dari Ayah.

“Ambil kertas dan tulis apa yang kukatakan.”

Aku merobek kertas dari buku sekolah. Lalu mendengar ucapan demi ucapan Emak. Sungguh aku terkejut mendengar ucapannya. Suamiku, kurestui engkau menikah. Aku tak bisa memenuhi kebutuhanmu karena jarak ruang dan waktu. Kau bisa menikah.

 

Jangan khwatirkan anak-anak, mereka bersamaku dan terus kujaga sepanjang usiaku. Namun, surat ini berharap untuk balasan kata cerai darimu.

 

Karena sebaik-baik wanita adalah mengikhlaskan suaminya menikah, dan tidak menyakiti wanita lainnya. Engkau mendapat restuku.

 

***

Matahari terus menanjak, persis di atas kepala. Emak masih duduk bersila. Tangannya mengambil wadah tempat air ludah bekas sirih yang dikunyah. Tujuh hari ini, dia menunaikan tugasnya sebagai seorang ibu, yang membantu anak-anaknya mengurus proses pemakaman ayah mereka. Bukan sebagai seorang isteri.

“Kau harus rajin berziarah ke makam ayahmu. Kirimkan doa untuknya. Segala perbuatannya meninggalkan kalian atas izinku. Jangan salahkan dia.”

Bagi kami, ucapan Emak adalah perintah yang harus dilaksanakan. Emak pula yang menemani kami melewati perang, hingga musim damai ini tiba. Perintah emak yang menggerakan langkahku menjemput ayah di rumah istri mudanya untuk ke rumah sakit. Mengobati penyakit hati.

Ayah meninggal sepekan setelah dirawat di rumah sakit. Persis di pangkuan Emak dan kami sebagai saksinya. Sedangkan istri mudanya, tak pernah hadir hingga hari-hari terakhirnya menghadap sang pencipta.

Dan, seorang gadis kecil, berusia tujuh tahun hari ini, anak ayah dengan istri mudanya pun kini bersama Emak.

“Aku merestui ayahmu. Anak ini, juga anakku. Juga adik kalian. Jangan kucilkan dia. Ayahmu sama seperti warga lainnya, sama seperti militer atau gerilyawan yang kutolong. Ini bukan soal hati. Ini soal kemanusiaan. Kalian harus memanusiakan manusia.”

Masriadi Sambo

Masriadi Sambo nama pena dari Masriadi, penulis novel Cinta Kala Perang (ElexMedia 2015), Cinta Kala perang (Kaki Langit Kencana, 2016), dan jurnalis Kompas.com serta pengajar Ilmu Komunikasi, Universitas Malikussaleh, Aceh. Bisa dihubungi lewat dimas@unimal.ac.id

You may be interested

MALANG [2]  Sehari Metik Apel di Kota Batu
TRAVEL
0 shares13 views
TRAVEL
0 shares13 views

MALANG [2] Sehari Metik Apel di Kota Batu

masriadisambo - Okt 25, 2018

Minggu, langit Kota Malang begitu cerah. Jam menunjukan pukul 08.00 WIB, ketika rombongan kami menumpangi bus pariwisata mulai bergerak dari…

MALANG [1]   Menyesap Oksigen, Menikmati Musik
CATATAN
0 shares30 views
CATATAN
0 shares30 views

MALANG [1] Menyesap Oksigen, Menikmati Musik

masriadisambo - Okt 22, 2018

UDARA dingin membakap Kota Malang, Sabtu (20/10/2018). Kami menyusuri Kota Malang menuju Jalan Sidomakmur, No 86, Letak Sari, Mulyoagung, Dau,…

Si Penyelamat di Tengah Banjir…
CATATAN
0 shares11 views
CATATAN
0 shares11 views

Si Penyelamat di Tengah Banjir…

masriadisambo - Okt 13, 2018

INI bukan cerita Robin Hood, legenda dalam cerita rakyat Inggris. Si penyelamat dan melawan pejabat korup era lampau. Namun ini…

Leave a Comment

Your email address will not be published.