Header Ad

Takdir Menjadi Tua

15 Desember 2017
76 Views

HARI ini saya bertambah tua. Usia berkurang setahun. 15 desember puluhan tahun lalu menjadi titik awal menghirup udara di bumi. Dan, di situ semua terus berlalu. Mulai bayi terus merangkak hingga usia sekarang ini.

Ada dua hal yang membuat saya merasa tua, pertama ketika mahasiswa saya diwisuda, lalu kedua ketika hari kelahiran saya tiba, seperti hari ini. Maka, hari ini sesungguhnya saya menjadi tua. Merasa sangat tua.

Sepanjang usia ini, setidaknya saya berpindah-pindah dari empat kabupaten/kota di Aceh. Saya lama di Kutacane, Aceh Tenggara, sempat di Kota Sabang, lalu super lama di Pirak Timu, Aceh Utara dan lumayan lama di Lhokseumawe.

Empat kota itu tentu menyisakan kenangan demi kenangan. Terlepas kenangan itu baik atau buruk. Setidaknya itu menjadi ingatan saya ketika hari ini tiba.

Saya bersyukur atas karunia sang pencipta, membawa saya hingga hari ini. Usia ini tentu keberuntungan dan bukti kebaikan Tuhan pada saya. Bahwa, saya masih bisa bernafas. Bahwa saya masih bisa menjalankan hari-hari yang menyenangkan. Dan saya bersyukur atas segala nikmat itu.

Tahun ini bagi saya adalah tahun-tahun menyenangkan. Saya menulis tiga buku dalam tahun ini. Ketiganya sudah rampung. Dua diantaranya diterbitkan tahun depan. Judulnya Pengantar Jurnalisme Multiplatform (saya tulis bersama Jafaruddin Yusuf @jaff), Media Relations Kontemporer, dan Peran Media Massa dalam Revolusi Kemerdekaan di Aceh. Khusus buku terakhir di danai oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Saya bukanlah sejarawan. Sehingga ketika bertemu para sejarawan, doktor dan profesor sejarah, saya belajar banyak dari mereka. Dalam program ini saya dipertemukan dengan 18 sejarawan keren tanah air. Mereka pengajar sejarah mumpuni dengan spesialis berbeda. Tentu, saya belajar banyak dari mereka.

Setiap tahun, saya berniat menulis dua naskah buku. Terlepas itu buku sastra berupa novel atau buku ajar buat mahasiswa di perguruan tinggi. Saya bukanlah ahli. Namun, saya berupaya membagikan apa yang saya ketahui pada pembaca. Tentu kurang di sana-sini, dan itu patut disempurnakan.

Keberuntungan lainnya, saya dikelilingi orang-orang baik. Mereka orang-orang hebat. Tentu tidak adil jika saya menyebutkan satu per satu. Karena saya khawatir terlupakan. Maklum, rambut putih mulai tumbuh satu-satu di kepala saya. Bagi saya, semua mereka teman hebat dan orang baik.

Bahwa ada satu atau dua kurang baik atau tidak baik sama sekali. Bukankah itu sebuah keindahan dalam hidup? Tentu tak ada yang sempurna. Begitu juga saya.

Pasti akan ada yang menyukai saya atau sebaliknya, bahkan membenci saya. Menganggap saya angkuh, sombong dan kalimat tak terpuji lainnya. Saya bukanlah kesempurnaan itu. Hanya sang pencipta yang maha sempurna.

Terima kasih atas diskusi hangat, dukungan luar biasa, dan marilah berbahagia bersama.

Salam

15 Desember 2017

Masriadi Sambo

You may be interested

Senja di Taman Ngieng Jioh
TRAVEL
0 shares24 views
TRAVEL
0 shares24 views

Senja di Taman Ngieng Jioh

masriadisambo - Agu 04, 2018

Senja hampir saja tiba ketika saya mengunjungi Taman Ngieng Jioh, Desa Blang Payang, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Namun, di…

Puspiptek, TIK dan Tertib Administrasi
KOLOM
0 shares18 views
KOLOM
0 shares18 views

Puspiptek, TIK dan Tertib Administrasi

masriadisambo - Jul 30, 2018

Masriadi MASALAH klasik yang dihadapi birokrasi kita dikenal dengan sebutan birokrasi kura-kura. Kalimat itu menggambarkan begitu lambannya proses birokrasi pemerintahan…

Buku Baru, Jurnalisme Multiplatform
BUKU
0 shares175 views
BUKU
0 shares175 views

Buku Baru, Jurnalisme Multiplatform

masriadisambo - Mar 08, 2018

DUA jurnalis asal Aceh, Jafaruddin Yusuf (Harian Serambi Indonesia) dan Masriadi Sambo (Kompas.com) yang juga dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Malikussaleh,…

Leave a Comment

Your email address will not be published.