Header Ad

“Menyeka” Keringat dengan Sop Duren

6 Maret 2017
165 Views


WANITA
paruh baya itu terlihat santai berbincang dengan seorang temannya, Sabtu (4/3/2017) sore. Di depannya, lalu lalang aneka kendaraan terdengar sedikit berisik. Tak lama, seorang pengendata singgah.

“Hayok mampir,” kata si wanita.

Pria pengendara sepeda motor itu tersenyum, lalu melangkah. “Dua porsi ya,” sebut sang pria sembari mengangkat jari telunjuk dan tengahnya bersamaan.

Si wanita lalu bangkit, menyerahkan kursinya untuk digunakan sang pria itu. Ya, itulah Susilawati, pemilik warung sop durian Wongkito. Tubuh mungilnya lalu sibuk meracik penganan yang dipesan.

Sementara, teman wanitanya, Dhila yang tadi diajak berdiskusi bersiap-siap merapikan pakaian olahraga. Lalu meloncat pagar Lapangan Jenderal Sudirman milik Komando Militer (Korem) 011 Lilawangsa. Ya, lapangan upacara itu saban sore digunakan sebagai tempat olahraga warga. Sebagian terlihat berlari kecil mengelilingi lapangan, ada juga yang bermain bola voli.

Sebagai fasilitas upacara militer, tentu lapangan itu dilengkapi sarana olahraga yang terbilang komplit. Tak heran, warga kerap menggunakan lapangan itu. Di sepanjang pinggir lapangan itulah letak warung sop durian Wong Kito.

Dari namanya–Wong Kito–tentu tercermin Padang, Sumatera Barat.  Susi baru memulai bisnis kuliner itu tahun lalu. “Idenya kan lihat di Medan. Saya kan menetap di Medan sebelum suami pindah tugas ke mari (Lhokseumawe). Di sana kan banyak penganan pinggir jalan, karena di sini tidak ada sop durian, maka saya milih sop durian,” kata Susi.

Tangannya lincah memasukan jeli, ketan, durian, es, santan dibalur es krem ke dalam mangkuk yang disiapkan.

“Ini pesanannya,” kata Susi pada pembeli.

Susi memiliki dua rak penganan, satu khusus untuk sop durian, satu lagi buat tempat es kream.

Begitu menyuap sop durian itu, dan lumer dilidah, maka wangi durian, nikmatnya ketan dan lemaknya santan menyatu jadi satu dalam mulut. Sungguh nikmat.

Ganti Menu

Layaknya pebisnis baru, Susi awalnya menggunakan air gula sebagai pengganti santan dalam sop durian itu. Ternyata, seorang pembeli komplain dan menyarankan Susi mengganti dengan santan.

“Iya juga saya pikir. Begitu saya coba, kalau air gula, maka rasa ketannya akan hilang. Nah, begitu coba dengan santan, ternyata rasa ketannya masih begitu terasa,” katanya.

Sejak saat itu, dia menetapkan santan sebagai “kuah” dalam sop duriannya. Soal es kream? Susi menjelaskan, dia memiliki sepuluh rasa es kream seperti kapucino, strawberi, kopi, dan lain sebagainya.

“Tinggal dipilih mau dicampur es kream rasa apa. Tapi, es kreamnya saya pesan jadi di Medan. Bukan saya buat sendiri loh,” katanya tersenyum.

Saban hari, dia bisa menjual sekitar 500 porsi sejak pukul 12.00 WIB hingga pukul18.00 WIB. “Alhamdulillah biasanya habis. Lihat tuh di rak saya, sedikit lagi kan,” katanya tak bisa menyembunyikan rasa bahagia.

Saat ditanya soal laba? Susi tersenyum. “Labanya nyaris 50 persen lebih dari modal,” katanya.

Sore semakin dekat. Di lapangan sebagian warga mulai menghentikan aktivitasnya. Lalu beralih ke sop durian. Ya, “menyeka” keringat dengan sop durian sembari menikmati semilir angin nan sejuk di kota yang dulu dijuluki petro dollar itu. |MASRIADI SAMBO

You may be interested

Senja di Taman Ngieng Jioh
TRAVEL
0 shares24 views
TRAVEL
0 shares24 views

Senja di Taman Ngieng Jioh

masriadisambo - Agu 04, 2018

Senja hampir saja tiba ketika saya mengunjungi Taman Ngieng Jioh, Desa Blang Payang, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Namun, di…

Puspiptek, TIK dan Tertib Administrasi
KOLOM
0 shares18 views
KOLOM
0 shares18 views

Puspiptek, TIK dan Tertib Administrasi

masriadisambo - Jul 30, 2018

Masriadi MASALAH klasik yang dihadapi birokrasi kita dikenal dengan sebutan birokrasi kura-kura. Kalimat itu menggambarkan begitu lambannya proses birokrasi pemerintahan…

Buku Baru, Jurnalisme Multiplatform
BUKU
0 shares175 views
BUKU
0 shares175 views

Buku Baru, Jurnalisme Multiplatform

masriadisambo - Mar 08, 2018

DUA jurnalis asal Aceh, Jafaruddin Yusuf (Harian Serambi Indonesia) dan Masriadi Sambo (Kompas.com) yang juga dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Malikussaleh,…

Leave a Comment

Your email address will not be published.