Header Ad

Kisah Pilu Nur Selaya Menyulap Kandang Sapi

20 Februari 2017
2 Shares 140 Views

IBU dua anak ini baru saja tiba di gubuknya Desa Panggoi, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Kamis (2/2/2017). Dialah Nur Salaya. Tiga hari terakhir dia menyulap kandang sapi menjadi tempat tinggalnya.

“Ini kandang sapi milik saudara almarhum suami saya,” katanya lirih. Dua anaknya turut bersamanya. Nafasnya tersengal. Dia berusaha membuang penat setelah seharian bekerja. Mencuci pakaian milik warga.

Baru tiga hari ini dia menempati “istana” baru itu.  Rumah sebelumnya terpaksa dirobohkan. Papan lapuk dan atap bocor membuat rumah itu tak layak ditempati.

“Saya tempel papan ala kadarnya, biar malam tidak kedinginan,” ujarnya.

Di rumah itu tak ada pembatas antar ruangan. Gubuk berukuran 3 x 4 meter itu menjadi satu ruang. Di situ pula, Nur bersama anaknya beraktivitas. Dari dapur, ruang tamu, tempat tidur semuanya menjadi satu.

Ranjang tidur kayu  tanpa kasur dibuat   menyatu dengan papan meja yang juga jadi dapur untuk memasak.

“Semuanya ya disini, dapur dan tempat tidur,” terangnya. Senyum Nur mengulas. Walau nampak berusaha menikmati kehidupannya. Kegetiran itu tak bisa ditutupi.

“Kalau malam saya pasang kelambu biar tidak digigit nyamuk,” sambungnya. Matanya nanar menatap atap. Di sana, matahari menerabas masuk lewat atap yang belum seluruhnya terpasang.

Dia berencana ingin menyemen lantai rumah itu. Sayangnya, Nur belum memiliki uang. “Berapalah gaji tukang cuci,” katanya.

Gaji sebagai tukang cuci pakaian di beberapa rumah belum menutupi kebutuhan keluarga itu. “Untuk makan saja susah,” ujar Nur sedih.

Lantas, adakah bantuan dari Pemerintah Kota Lhokseumawe? Nur tersenyum. “Sampai sekarang saya belum menerima bantuan,” katanya.

Dia mengaku beberapa kali rumahnya difoto oleh sejumlah pihak. Katanya, sambung Nur akan diberikan bantuan rumah. Namun, janji itu hingga kini tak dirasakannya.

Padahal, Pemerintah Kota Lhokseumawe saban tahun membuat program bantuan rumah duafa. Nur, belum beruntung menjadi penerima bantuan itu. Dia berharap tahun ini, pemerintah memberikan bantuan rumah itu. “Bukankah saya warga miskin juga?” ujarnya penuh tanya. |MASRIADI SAMBO

 

You may be interested

Buku Pengantar Jurnalisme Multiplatform Cetak Ulang ke 2
BUKU
0 shares31 views
BUKU
0 shares31 views

Buku Pengantar Jurnalisme Multiplatform Cetak Ulang ke 2

masriadisambo - Des 02, 2018

Buku Pengantar Jurnalisme Multiplatform karya Masriadi Sambo (dosen Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh dan jurnalis Kompas.com) dan Jafaruddin Yusuf (Jurnalis Harian…

Di Tengah Desing Mesiu 
CATATAN
0 shares20 views
CATATAN
0 shares20 views

Di Tengah Desing Mesiu 

masriadisambo - Nov 09, 2018

  CERPEN : Masriadi Sambo |Republika | 4 November 2018   Kami duduk selonjor di teras rumah, setelah berziarah, ke…

MALANG [2]  Sehari Metik Apel di Kota Batu
TRAVEL
0 shares22 views
TRAVEL
0 shares22 views

MALANG [2] Sehari Metik Apel di Kota Batu

masriadisambo - Okt 25, 2018

Minggu, langit Kota Malang begitu cerah. Jam menunjukan pukul 08.00 WIB, ketika rombongan kami menumpangi bus pariwisata mulai bergerak dari…

Leave a Comment

Your email address will not be published.