Header Ad

Bu Nur dan Kenakalan Kami …

20 Februari 2017
1 Shares 135 Views

ORANG TUA saya menyerahkan saya Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Bambel, Kutacane,Aceh Tenggara. Sekolah itu berada di Kompleks Pelajar, Babussalam. Letaknya persis di sudut. Bersisian dengan SMAN 2 Kutacane dan MIN Kutacane.

Di awal sekolah, saya diantar Bapak. Saat itu, usia saya masih kurang setahun. Namun, seorang panitia pendaftaran meminta saya melingkarkan tangan dikepala lalu memegang telinga. Tangan saya sampai di telinga dan saya pun diterima.

Lalu, masuk kelas. Seorang guru, namanya Buk Nur (saya tidak ingat nama panjangnya) menjadi wali kelas kami. Sosoknya sungguh sederhana. Rumahnya sekitar 3 kilometer dari sekolah. Kami selalu melewati rumahnya saat sekolah. Rumahnya kecil, mungkin berukuran 3 x 12 meter, persis di sisi jalan lintas Medan-Kutacane, Desa Bambel, Aceh Tenggara.

Saya ingat, Bu Nur, begitu kami memanggilnya, rajin memeriksa kuku seluruh murid. Saya, Jhoni, Gundaraha, Adi, kerap ditempel rol kayu sepanjang satu meter di telapak tangan. Telapak tangan yang tadinya dingin berubah menjadi panas.

Nah, mengindari hukuman itu, kami pun menggunakan akal. Jika pemeriksaan kuku sebelum masuk kelas berlangsung, dan kuku kami panjang, maka gigi menjadi alat pemotong.

Ketika diperiksa, kuku itu tentu tidak rata, karena dipotong dengan gigi. Bu Nur pun tersenyum. “Nanti sampai rumah, suruh ibumu atau kakakmu merapikan kukumu. Anak ganteng kok kukunya panjang,” katanya.

Guru kami yang satu ini berbadan tambun. Tangannya kokoh sekokoh tubuhnya. Jadi, bayangkan kalau dijewer, atau ditempeleng, karena kenalakan kami yang keterlaluan. Rasanya sungguh luar biasa.

Tidak ada satu pun murid yang melapor ke orang tuanya, jika “dihajar” di kelas oleh Bu Nur. Kami yakin, pepatah kuno, bahwa yang dipukul itu bukan kami secara fisik. Namun “setan” yang membuat kami nakal, gaduh, naik meja, hingga terkadang kursi patah. Jadi tak ada cerita mengadu ke rumah.

Makanya, ketika di era mileneal ini ada cerita guru dilaporkan ke polisi karena memukul muridnya, kami terkejut-kejut. Walah, ini negeri apa. Guru kok di penjara.

Saya ingat betul, ajaran Bu Nur. Waktu itu kami tidak paham apa yang diajarkan itu akan bermanfaat untuk kami atau tidak. Misalnya, ketika mengajarkan kami menulis abjad. Bu Nur yang bersuku Aceh ini selalu mengajarkan detail. Dia memegang tangan kami lalu mengoreskan ujung pensil sesuai bentuk huruf yang diinginkan.

“Lihat, perhatikan goresannya. Sampai bentuk huruf “a” atau “A”. Harus detail,” katanya.

Begitu juga soal matematika. Kami diajarkan menggunakan lidi. Jadi, setiap murid membawa seikat kecil lidi. Buat menghitung, menambah, mengali dan mengurangi. Metode ini ternyata efektif. Di kelas kami ber-40, seluruhnya bisa membaca dan menulis ketika hendak naik kelas.

Soal gebukan, kami bahkan tak pernah menghiraukannya. Hari ini digebuk, diam sebentar, lalu ribut lagi ketika Bu Nur pergi ke ruang guru untuk mengambil kapur. Begitulah anak-anak.

Anehnya, ketika setiap orang tua bertanya, pada Bu Nur. Dia selalu memuji kemampuan kami. Tak pernah membuli kejahatan kami di ruang kelas.

Misalnya, ketika ayah Si Kembar datang. Ayahnya seorang pegawai pajak. Saya lupa nama kakak beradik ini. Yang saya ingat hanya mereka kembar dan cantik.

“Si Kembar baik kok pak. Mereka akrab dengan semua murid. Perkembangan belajarnya juga bagus,” kata Bu Nur.

Padahal, kami semua tahu, bahwa Si Kembar kerap kami ganggu. Bahkan beberapa kami keduanya menangis sejadi-jadinya, karena kami ganggu. Gundahara mengambil kotak air minumnya. Saya mengambil kotak makanannya. Keduanya meminta agar dikembalikan. Dan kami pun berlarian melarikan kotak itu. Karena itu, dia menangis sejadi-jadinya. Hukumannya jelas, saya dan Gundaraha berdiri di depan kelas, sebelah kaki. Ini penderitaan yang tak seberapa dibanding digebuk dengan rol kayu hingga patah.

Saya bertemu terakhir dengan Bu Nur ketika naik ke kelas dua. Tepatnya pembagian raport. Saya rangking dua saat itu. Jhoni rangking satu. Setelah itu, saya dan seluruh keluarga pindah ke Paya Lueng Jaloe, Pirak Timu, Aceh Utara. Kami kembali. Ke kampung dimana ayah saya sebagai salah satu yang menerabas hutan hingga kampung itu ada.

Sejak saat itu, saya tak tahu lagi dimana Bu Nur sekarang. Apakah beliau sehat, ataukah sudah meninggalkan dunia fana ini. Sungguh, detail yang diajarkan akhir-akhir ini baru kami sadari. Bahwa, detail itu penting. Dari situ deteksi dini bisa berfungsi.

Selamat hari guru. Bu Nur, saya salah satu murid nakalmu. Maafkan atas segala kenakalan tempo lalu. Ampuni kami yang selalu membuatmu naik darah. Selamat hari guru untuk seluruh guru Indonesia.

|MASRIADI SAMBO

 

You may be interested

Senja di Taman Ngieng Jioh
TRAVEL
0 shares24 views
TRAVEL
0 shares24 views

Senja di Taman Ngieng Jioh

masriadisambo - Agu 04, 2018

Senja hampir saja tiba ketika saya mengunjungi Taman Ngieng Jioh, Desa Blang Payang, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Namun, di…

Puspiptek, TIK dan Tertib Administrasi
KOLOM
0 shares18 views
KOLOM
0 shares18 views

Puspiptek, TIK dan Tertib Administrasi

masriadisambo - Jul 30, 2018

Masriadi MASALAH klasik yang dihadapi birokrasi kita dikenal dengan sebutan birokrasi kura-kura. Kalimat itu menggambarkan begitu lambannya proses birokrasi pemerintahan…

Buku Baru, Jurnalisme Multiplatform
BUKU
0 shares175 views
BUKU
0 shares175 views

Buku Baru, Jurnalisme Multiplatform

masriadisambo - Mar 08, 2018

DUA jurnalis asal Aceh, Jafaruddin Yusuf (Harian Serambi Indonesia) dan Masriadi Sambo (Kompas.com) yang juga dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Malikussaleh,…

Leave a Comment

Your email address will not be published.