Header Ad

Media Cetak (belum) Mati

14 Februari 2017
118 Views

TAHUN lalu dicap sebagai tahun senjakala media cetak. Perdebatan dan diskusi soal ini menjadi semakin hangat ketika Redaktur Senior Kompas, Bre Redana, soal senjakala media massa.

Secara statistik, tahun lalu sejumlah media cetak memilih mengakhiri “hidupnya” dengan damai. Nama-nama besar seperti The Jakarta Globe, Sinar Harapan, Harian Bola menutup versi cetak. Koran Tempo, menutup edisi Minggu.

Nasib yang sama dialami belasan media cetak di daerah. Data Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menyebutkan, koran yang menutup usahanya seperti Koran Selebes dan Koran Inilah Sulsel di Makassar, Harian Jambi Today dan Harian Jambi di Jambi, dan lain-lain. Data The Nielsen Company, lembaga independen yang memantau industri media merinci jumlah media yang berguguran sepanjang tahun 2015 ini. Dari 117 surat kabar yang dipantau, 16 unit media telah gulung tikar. Sementara untuk majalah dari 170 kini menyisakan 132 majalah. Tidak tertutup kemungkinan, tahun ini puluhan media cetak, termasuk di Aceh segera gulung tikar.

Statistik itu membuat pengusaha media mengencangkan ikat pinggang. Menggelar sejumlah kajian untuk mempertahankan bisnis printingnya. Perubahan gaya bisnis dan gaya penulisan menjadi suatu keniscayaan di era digital, dimana seluruh platform media bisa disatukan dalam satu kanal internet.

Dari sisi pemberitaan misalnya, genre jurnalisme investigasi dan sastrawi tampaknya menjadi langka akhir-akhir ini di media cetak. Dewasa ini, media cetak cendrung mengedepankan “jurnalisme ludah”, berorientasi straight news (berita keras) dan hanya mengutamakan para pejabat publik yang berbicara. Gaya penulisan jenis ini sesungguhnya dalam hitungan menit telah tersaji di media daring. Sehingga, ketika koran terbit besok pagi, majalah terbit mingguan atau bulanan, pembaca tidak akan membeli produk printing itu. Publik sudah mengetahui berita itu dalam hitungan menit paska kejadian.

Di sisi lain, pengelola media, enggan dan khawatir mengeluarkan dana besar untuk meningkatkan komptensi wartawannya di bidang investigasi dan sastrawi. Harus diakui, tidak semua wartawan mampu dalam dua genre jurnalisme itu. Karena itulah, perlu pendidikan khusus yang dilakukan di internal media massa.

Seandainya, halaman satu  koran/majalah selalu diisi oleh berita investigasi yang sifatnya mengungkap kesalahan dan penyimpangan pengelolaan negara ini, maka publik setia menungu terbitan terbaru media cetak itu. Pada waktu bersamaan nurani publik tersentuh ketika membaca kisah-kisah humanis pada versi cetak.

Dua jenis tulisan itu sesungguhnya selalu ditunggu pembaca. Masyarakat timur selalu tersentuh membaca kisah humanis dan kebobrokan negara ini. Dengan begitu, oplah cetak bisa bertahan, syukur-syukur bisa meningkat dari waktu ke waktu.

Saat ini, alih-alih berharap media melakukan investigasi, sekadar liputan mendalam pun nyaris tidak ada.

Latah Mengelola Daring

          Perkembangan digital dewasa ini membuat pengelola media cetak turut latah mengelola media daring (online).  Di satu sisi, mereka tidak merubah pola pemberitaan edisi cetak, di sisi lain, gencar mengupdate berita di kanal online. Kondisi ini mempengaruhi tergerusnya pasar edisi cetak. Sederhananya, media online menggerus pasar media cetak dengan bran media yang sama.

          Melahirkan media online merupakan suatu keniscayaan bagi pengelola media dewasa ini. Namun, harus dipertimbangkan segmen pasar dan nama. Sejatinya, media daring yang dilahirkan tidak terkait dengan embel-embel nama besar media cetak. Meski dibawah bendera perusahaan yang sama, nama media daring baru itu sejatinya berbeda dengan versi cetak. Sehingga, akan muncul pembaca baru. Bukan menggerus pembaca yang sudah menjadi pelanggan media cetak.

          Saat ini, pengelola media, ramai-ramai mengkonversi media cetak menjadi media online. Digitalisasi ini akan berpengaruh pada oplah versi cetak dan mempercepat senjakala media cetak itu sendiri. Kondisi ini sebenarnya latah dalam menyusun strategi bisnis media. Kita tahu, bisnis media dewasa ini semakin kompetitif dan inovatif. Hanya pelaku inovatiflah kedepan bisa bertahan di versi cetak.

Seret Iklan

          Salah satu faktor membuat media cetak gulung tikar adalah minimnya iklan. Menjadi tidak logis ketika iklan cetak masih ditawarkan secara kovensional dengan hitungan per milimeter itu. Sejatinya, harus ada terobosan baru menawarkan iklan media cetak. Misalnya, diberikan paket iklan cetak, bonus iklan di media online (nama media berbeda dengan versi cetak).

          Jika pola iklan ini yang digunakan, niscaya pemasang iklan akan tertarik untuk memasang produknya di versi cetak. Selain itu, paket-paket kerjasama dengan seluruh lembaga pemerintah, swasta, dan lain sebagainya patut dipikirkan. Dispensasi harga cetak dan bonus menjadi suatu hal yang selalu dipertimbangkan pemasang iklan.

          Konsep multiplatform media yang ditawarkan Deuz sejatinya ideal diterapkan pada sektor bisnis media. Bukan pada ranah redaksi yang selama ini dipraktikan pemilik media di tanah air. Konvergensi dan konvergensi redaksi media dua hal yang berbeda. Konvergensi bisnis bisa diterapkan saat ini juga, sementara konvergensi  butuh proses panjang untuk semua media bisa sampai ke ranah itu. Buktinya, sampai saat ini, belum ada satu pun media ditanah air yang menerapkan konvergensi media.

          Kini, pilihan ada di tangan pemilik media. Memilih mengakhiri hidup menyusul media lainnya atau memilih bertahan dan terus berinovasi. Hidup adalah pilihan, saatnya pengelola media memilih nasibnya sendiri.

 

|MASRIADI SAMBO

You may be interested

Senja di Taman Ngieng Jioh
TRAVEL
0 shares24 views
TRAVEL
0 shares24 views

Senja di Taman Ngieng Jioh

masriadisambo - Agu 04, 2018

Senja hampir saja tiba ketika saya mengunjungi Taman Ngieng Jioh, Desa Blang Payang, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Namun, di…

Puspiptek, TIK dan Tertib Administrasi
KOLOM
0 shares18 views
KOLOM
0 shares18 views

Puspiptek, TIK dan Tertib Administrasi

masriadisambo - Jul 30, 2018

Masriadi MASALAH klasik yang dihadapi birokrasi kita dikenal dengan sebutan birokrasi kura-kura. Kalimat itu menggambarkan begitu lambannya proses birokrasi pemerintahan…

Buku Baru, Jurnalisme Multiplatform
BUKU
0 shares175 views
BUKU
0 shares175 views

Buku Baru, Jurnalisme Multiplatform

masriadisambo - Mar 08, 2018

DUA jurnalis asal Aceh, Jafaruddin Yusuf (Harian Serambi Indonesia) dan Masriadi Sambo (Kompas.com) yang juga dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Malikussaleh,…

Leave a Comment

Your email address will not be published.