Header Ad

Kantor Berita Polisi

14 Februari 2017
88 Views

SIKAP skeptis masyarakat terhadap lembaga kepolisian hingga kini belum sirna. Korp Bhayangkara itu masih dianggap sebagai individu yang menakutkan, menyeramkan, dan seakan-akan super power.

Rasa pesimis terhadap perilaku dan kinerja polisi itu bukan tidak beralasan. Rentetan peristiwa seperti Cicak versus Buaya yang melibatkan institusi Polri dan KPK menambah rasa tidak percaya masyarakat pada polisi. Belakangan, tuduhan kriminalisasi mantan pimpinan KPK, Abraham Samad dan Bambang Wijoyanto plus penyidik KPK Novel Baswedan semakin melengkapi krisis kepercayaan anak bangsa.

          Rasa jemu akan tindakan polisi perlahan mencair ketika mereka itu mampu melumpuhkan teroris di Sarinah, Jakarta baru-baru ini. Dalam hitungan menit, polisi melumpuhkan terduga pelaku penembakan dan pengebobam di lokasi pusat perbelanjaan itu.

          Saat itu, selama sebulan penuh, jagat dunia maya dan dunia nyata memuji keberhasilan polisi Indonesia. Mulai dari cara berpakaian, tindakan heroik, hingga kecepatan pengungkapan kasus itu menuai pujian. Di tengah “badai” pujian itu, sikap psimis tidak sirna seketika. Masih ada komentar pedas dari rakyat seperti “kami bangga pada polisi kecuali polisi lalu lintas”, di Aceh beredar memei (plesetan) “kami bangga pada polisi kecuali polisi di perbatasan Aceh-Sumut”.

          Dua ungkapan kritik itu menandakan, bahwa masyarakat trauma akan razia lalu lintas. Harus diakui, masih saja ada oknum petugas yang meminta “damai” pada masyarakat yang melakukan pelanggaran berlalu lintas. Hal yang sama terjadi di perbatasan Aceh dan Sumatera Utara. Lambatnya penanganan perkara juga kerap menjadi sorotan.

          Riset yang dipublis oleh Populi Center Jakarta, Oktober tahun lalu, menempatkan KPK sebagai lembaga paling dipercaya publik, disusul peringkat dua Presiden. Sementara TNI dan Polri masing-masing berada diperingkat tiga dan empat.  Dari hasil riset ini, citra polisi di mata rakyat masih terbilang buruk.

Mulai Berbenah

Kapolri Jenderal Badroddin Haiti, tampaknya menyadari citra polisi yang terpuruk itu. Sebagai orang nomor satu di lembaga itu, Jenderal Badroddin tentu ingin publik mencintai polisi. Tagline siap melayani masyarakat menjadi tugas berat kepolisian untuk diwujudkan.

Karena itu, polisi mendirikan kantor berita sendiri yang diberinama Tribratanews. Portal ini didirikan dari Mabes Polri hingga Polres di kabupaten/kota. Semangat keterbukaan informasi publik ini patut diapresiasi. Dari website itu bisa dilihat apa saja kasus yang ditangani polisi secara real time.

Pada portal berita milik polisi itu pula ditampilkan kinerja polisi yang luput dari perhatian media massa dan masyarakat. Semisal, bagaimana tangguhnya korp polisi wanita menyebrangkan pelajar ke sekolah dengan mengarungi sungai. Bagaimana seorang polisi jujur, pulang dinas memilih bekerja sebagai penjahit sepatu di Pasar Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh untuk penghasilan tambahan keluarga. Segudang kisah humanis tentang bintara dan perwira polisi di sampaikan lewat situs itu. Tak jarang dari situs itu pula kisah itu mengemuka ke laman media massa dan menuai decak kagum dari seluruh warga. Artinya, situs ini berhasil menampilkan masih banyak polisi yang bersih, jujur dan berprestasi. Siap melayani masyarakat kapan saja dan dimana saja.

Namun, perlu upaya serius membenahi konten portal itu. Misalnya, kisah seorang polisi yang humanis, menyisihkan 50 persen gajinya untuk membantu anak yatim, jika dikemas tidak apik, maka bagai kehilangan makna. Menghapus nilai-nilai humanis berita dan membingungkan pembaca adalah kesalahan terpatal dalam penulisan.

Untuk itu seluruh jajaran kepolisian perlu mendidik khusus bintara yang mengelola portal itu menulis berita yang baik dan menarik. Sehingga pembaca mudah mencerna pesan yang disampaikan. Ingat, pembaca media online adalah pembaca yang tidak betah berlama-lama menikmati satu artikel (Wahyu Dhyatmika, 2015). Untuk itu perlu disiapkan sumber daya manusia yang profesional mengelola konten kantor berita polisi itu.

Tak kalah penting, dalam portal itu belum disajikan bagaimana perkembangan kasus yang ditangani. Sejatinya, publik bisa melihat kinerja polisi day to day dan up date perkara dari waktu ke waktu. Apakah satu perkara telah disidik secara serius, berapa saksi yang diperiksa, berapa jumlah tersangka, dan kapan akan dilimpahkan ke kejaksaan untuk penuntutan seterusnya ke pengadilan hingga perkara itu divonis oleh majelis hakim di pengadilan. Tampaknya, sisi ini belum tersentuh sama sekali oleh tim yang mengelola Tribratanews di seluruh Indonesia. Jika ini dilakukan, maka citra polisi akan pulih dan kembali dipercaya rakyat negeri ini.

Jangan sampai generasi kita ke depan, masih mengingat plesetan populer yaitu bahwa hanya tiga polisi yang jujur di Indonesia yakni patung polisi, polisi tidur dan Hoegeng (Kapolri) pertama yang terkenal itu.

|MASRIADI SAMBO

 

You may be interested

Senja di Taman Ngieng Jioh
TRAVEL
0 shares24 views
TRAVEL
0 shares24 views

Senja di Taman Ngieng Jioh

masriadisambo - Agu 04, 2018

Senja hampir saja tiba ketika saya mengunjungi Taman Ngieng Jioh, Desa Blang Payang, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Namun, di…

Puspiptek, TIK dan Tertib Administrasi
KOLOM
0 shares18 views
KOLOM
0 shares18 views

Puspiptek, TIK dan Tertib Administrasi

masriadisambo - Jul 30, 2018

Masriadi MASALAH klasik yang dihadapi birokrasi kita dikenal dengan sebutan birokrasi kura-kura. Kalimat itu menggambarkan begitu lambannya proses birokrasi pemerintahan…

Buku Baru, Jurnalisme Multiplatform
BUKU
0 shares175 views
BUKU
0 shares175 views

Buku Baru, Jurnalisme Multiplatform

masriadisambo - Mar 08, 2018

DUA jurnalis asal Aceh, Jafaruddin Yusuf (Harian Serambi Indonesia) dan Masriadi Sambo (Kompas.com) yang juga dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Malikussaleh,…

Leave a Comment

Your email address will not be published.