Header Ad

Kantor Berita Polisi

14 Februari 2017
110 Views

SIKAP skeptis masyarakat terhadap lembaga kepolisian hingga kini belum sirna. Korp Bhayangkara itu masih dianggap sebagai individu yang menakutkan, menyeramkan, dan seakan-akan super power.

Rasa pesimis terhadap perilaku dan kinerja polisi itu bukan tidak beralasan. Rentetan peristiwa seperti Cicak versus Buaya yang melibatkan institusi Polri dan KPK menambah rasa tidak percaya masyarakat pada polisi. Belakangan, tuduhan kriminalisasi mantan pimpinan KPK, Abraham Samad dan Bambang Wijoyanto plus penyidik KPK Novel Baswedan semakin melengkapi krisis kepercayaan anak bangsa.

          Rasa jemu akan tindakan polisi perlahan mencair ketika mereka itu mampu melumpuhkan teroris di Sarinah, Jakarta baru-baru ini. Dalam hitungan menit, polisi melumpuhkan terduga pelaku penembakan dan pengebobam di lokasi pusat perbelanjaan itu.

          Saat itu, selama sebulan penuh, jagat dunia maya dan dunia nyata memuji keberhasilan polisi Indonesia. Mulai dari cara berpakaian, tindakan heroik, hingga kecepatan pengungkapan kasus itu menuai pujian. Di tengah “badai” pujian itu, sikap psimis tidak sirna seketika. Masih ada komentar pedas dari rakyat seperti “kami bangga pada polisi kecuali polisi lalu lintas”, di Aceh beredar memei (plesetan) “kami bangga pada polisi kecuali polisi di perbatasan Aceh-Sumut”.

          Dua ungkapan kritik itu menandakan, bahwa masyarakat trauma akan razia lalu lintas. Harus diakui, masih saja ada oknum petugas yang meminta “damai” pada masyarakat yang melakukan pelanggaran berlalu lintas. Hal yang sama terjadi di perbatasan Aceh dan Sumatera Utara. Lambatnya penanganan perkara juga kerap menjadi sorotan.

          Riset yang dipublis oleh Populi Center Jakarta, Oktober tahun lalu, menempatkan KPK sebagai lembaga paling dipercaya publik, disusul peringkat dua Presiden. Sementara TNI dan Polri masing-masing berada diperingkat tiga dan empat.  Dari hasil riset ini, citra polisi di mata rakyat masih terbilang buruk.

Mulai Berbenah

Kapolri Jenderal Badroddin Haiti, tampaknya menyadari citra polisi yang terpuruk itu. Sebagai orang nomor satu di lembaga itu, Jenderal Badroddin tentu ingin publik mencintai polisi. Tagline siap melayani masyarakat menjadi tugas berat kepolisian untuk diwujudkan.

Karena itu, polisi mendirikan kantor berita sendiri yang diberinama Tribratanews. Portal ini didirikan dari Mabes Polri hingga Polres di kabupaten/kota. Semangat keterbukaan informasi publik ini patut diapresiasi. Dari website itu bisa dilihat apa saja kasus yang ditangani polisi secara real time.

Pada portal berita milik polisi itu pula ditampilkan kinerja polisi yang luput dari perhatian media massa dan masyarakat. Semisal, bagaimana tangguhnya korp polisi wanita menyebrangkan pelajar ke sekolah dengan mengarungi sungai. Bagaimana seorang polisi jujur, pulang dinas memilih bekerja sebagai penjahit sepatu di Pasar Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh untuk penghasilan tambahan keluarga. Segudang kisah humanis tentang bintara dan perwira polisi di sampaikan lewat situs itu. Tak jarang dari situs itu pula kisah itu mengemuka ke laman media massa dan menuai decak kagum dari seluruh warga. Artinya, situs ini berhasil menampilkan masih banyak polisi yang bersih, jujur dan berprestasi. Siap melayani masyarakat kapan saja dan dimana saja.

Namun, perlu upaya serius membenahi konten portal itu. Misalnya, kisah seorang polisi yang humanis, menyisihkan 50 persen gajinya untuk membantu anak yatim, jika dikemas tidak apik, maka bagai kehilangan makna. Menghapus nilai-nilai humanis berita dan membingungkan pembaca adalah kesalahan terpatal dalam penulisan.

Untuk itu seluruh jajaran kepolisian perlu mendidik khusus bintara yang mengelola portal itu menulis berita yang baik dan menarik. Sehingga pembaca mudah mencerna pesan yang disampaikan. Ingat, pembaca media online adalah pembaca yang tidak betah berlama-lama menikmati satu artikel (Wahyu Dhyatmika, 2015). Untuk itu perlu disiapkan sumber daya manusia yang profesional mengelola konten kantor berita polisi itu.

Tak kalah penting, dalam portal itu belum disajikan bagaimana perkembangan kasus yang ditangani. Sejatinya, publik bisa melihat kinerja polisi day to day dan up date perkara dari waktu ke waktu. Apakah satu perkara telah disidik secara serius, berapa saksi yang diperiksa, berapa jumlah tersangka, dan kapan akan dilimpahkan ke kejaksaan untuk penuntutan seterusnya ke pengadilan hingga perkara itu divonis oleh majelis hakim di pengadilan. Tampaknya, sisi ini belum tersentuh sama sekali oleh tim yang mengelola Tribratanews di seluruh Indonesia. Jika ini dilakukan, maka citra polisi akan pulih dan kembali dipercaya rakyat negeri ini.

Jangan sampai generasi kita ke depan, masih mengingat plesetan populer yaitu bahwa hanya tiga polisi yang jujur di Indonesia yakni patung polisi, polisi tidur dan Hoegeng (Kapolri) pertama yang terkenal itu.

|MASRIADI SAMBO

 

You may be interested

Buku Pengantar Jurnalisme Multiplatform Cetak Ulang ke 2
BUKU
0 shares31 views
BUKU
0 shares31 views

Buku Pengantar Jurnalisme Multiplatform Cetak Ulang ke 2

masriadisambo - Des 02, 2018

Buku Pengantar Jurnalisme Multiplatform karya Masriadi Sambo (dosen Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh dan jurnalis Kompas.com) dan Jafaruddin Yusuf (Jurnalis Harian…

Di Tengah Desing Mesiu 
CATATAN
0 shares21 views
CATATAN
0 shares21 views

Di Tengah Desing Mesiu 

masriadisambo - Nov 09, 2018

  CERPEN : Masriadi Sambo |Republika | 4 November 2018   Kami duduk selonjor di teras rumah, setelah berziarah, ke…

MALANG [2]  Sehari Metik Apel di Kota Batu
TRAVEL
0 shares23 views
TRAVEL
0 shares23 views

MALANG [2] Sehari Metik Apel di Kota Batu

masriadisambo - Okt 25, 2018

Minggu, langit Kota Malang begitu cerah. Jam menunjukan pukul 08.00 WIB, ketika rombongan kami menumpangi bus pariwisata mulai bergerak dari…

Leave a Comment

Your email address will not be published.