Header Ad

Ihwal Politisi dan Media

14 Februari 2017
2 Shares 157 Views

PEMILIHAN kepala daerah (Pilkada) serentak di Indonesia akan menjadi perang strategi, wacana, gagasan dan program seluruh partai politik. Pilkada serentak gelombang pertama 2015, kedua 2017 dan gelombang ketiga 2019. Aceh berada pada gelombang kedua perhelatan pesta demokrasi terakbar itu.

Bagi partai politik, menyampaikan gagasan, ide dan program pasangan calon yang diusung pada publik menjadi suatu keharusan. Sehingga, visi-misi, program kerja dan aneka kelebihan calon pun bisa diketahui publik. Intinya, partai politik mulai sadar, tidak zamannya lagi menyuguhkan calon ibarat membeli kucing dalam karung pada pemilih.

Pemilih cerdas sejatinya ingin mengetahui rekam jejak pasangan yang dipilihnya. Presentase pemilih anomali semakin mengecil dari waktu ke waktu. Sayangnya, partai politik sejauh ini hanya melakukan pencitraan terkesan terlalu dibuat-buat menjelang Pilkada/Pemilu. Pada akhirnya, tujuan akhir tidak bisa dicapai yaitu memenangkan suara rakyat.

Pertarungan Wacana

Sesungguhnya, pertarungan wacana, gagasan dan program antarpartai politik di Indonesia belum terlihat merata. Pertarungan ini tampak timpang antara partai politik lama dan partai politik baru.

Hanya Partai Nasional Demokrat (NasDem) yang mampu mengimbangi pertarungan wacana itu. Mengapa? Karena, NasDem beruntung dipimpin oleh Surya Paloh yang memimpin salah satu group bisnis terbesar media massa di negeri ini. NasDem mampu mengimbangi perang wacana setara dengan seniornya Golkar dan PDI-P.

Sementara partai lainnya, lihatlah Partai Keadilan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Gerindra, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), nyaris tak terdengar nyaring di parlemen.

Dari sepuluh besar pemenang Pemilu 2014, PDIP, Golkar, Gerindra, Demokrat, PKB, PAN, PKS, NasDem, PPP dan Hanura, tampanya hanya NasDem yang mampu mengimbangi perang wacana partai senior (BBC Indonesia, 10 Mei 2014). Hal ini bisa dilihat seberapa sering politisi muncul di media massa, baik cetak, televisi dan media digital.

Untuk Pilkada serentak, tampaknya partai-partai senior kecuali NasDem masih menguasai pertarungan wacana. Itu pun sebatas mengejar masa kampanye yang sangat terbatas. Partai politik Indonesia belum memaksimalkan komunikasi politik rentang waktu panjang untuk memunculkan figur yang akan diusung pada Pilkada mendatang.

Pembentukan citra dan kemunculan tokoh baru justru tidak dilakukan oleh partai politik. Namun, tokoh baru itu muncul karena kegigihan dan kepeduliannya sendiri. Lihatlah bagaimana Ridwan Kamil, Risma, Ganjar Pranowo dan paling fenomenal Joko Widodo muncul sebagai tokoh yang diinginkan rakyat. Mereka jauh-jauh hari menyiapkan diri sebagai tokoh publik yang seakan-akan sangat dibutuhkan oleh publik. Karena itu pula mereka menyusun program pro rakyat dan kerja nyata. Sesungguhnya, kerja nyata dan kegigihan politisi turun ke rakyat, tanpa direspon media sama sama angin lalu. Publik tidak akan mengetahui kerja nyata itu secara masif.

Perkembangan teknologi komunikasi pun belum direspon secara serius oleh partai politik. Padahal, metode kampanye konvensional seperti pengerahan massa untuk rapat umum mulai terasa hampa di zaman digital ini. Di balik keramaian massa dengan berbagai atribut terasa sepi makna (Toto Sugiharto, 2014).

“Keadilan” Media

Jangan pernah berharap media akan berlaku adil sesuai keinginan partai politik. Keadilan yang ditafsir media adalah memberikan porsi lebih besar untuk partai besar yang diprediksi memiliki massa dalam jumlah besar pula. Misalnya, partai yang pernah tercatat memenangi Pemilu atau menempati lima besar Pemilu.

Sementara untuk partai kecil atau diprediksi memiliki massa kecil, maka porsi pemberitaan relatif kecil. Karena itulah, partai politik kerap menganggap media massa tidak adil dan belakangan mendirikan media sendiri. Golkar dibawah Aburizal Bakri didukung oleh TVOne, Viva, dan ANTV. NasDem dibawah Surya Paloh didukung Media Group, Demokrat dibawah Anas didukung oleh Jurnal Nasional, dan saat ini sejak SBY menjadi Komisaris TransCorp tampaknya juga didukung oleh TransMedia.

Sementara Hanura mulai kehilangan area kampanye sejak ditinggal Hary Tanoe Sudibyo. Gerindra memiliki dana besar untuk beriklan di media massa, dan masif di media sosial.

Belum semua partai politik dan politisi memanfaatkan perkembangan media sosial untuk komunikasi politik pada rakyat. Jika pun ada, maka itu dilakukan secara personal oleh masing-masing politisi. Persoalan lainnya, tidak semua politisi di Senayan menggunakan media online yang masif akhir-akhir ini. Coba perhatikan blog pribadi sejumlah politisi Senayan. Sangat tidak update. Padahal,banyak hal yang dikerjakannya. Namun sayangnya, itu tidak diketahui publik. Ingin beriklan di media massa tentu perlu menguras isi dompet. Sejatinya, media sosial dan blog patut menjadi perhatian serius seluruh politisi dan  partai politik di Indonesia.

Di Amerika, tidak ada lagi politisi yang tidak memiliki blog pribadi dan akun di media sosial. Sehingga, begitu ada keluhan dari rakyat, politisi itu bisa mengetahuinya dalam hitungan detik. Bisa pula meresponnya secepatnya. Ini yang dilakukan politisi seperti Ridwan Kamil, Ahok, Ganjar Pranowo dan Risma. Pada akhirnya, media massa akan menjadikan mereka menjadi tokoh yang patut diburu. Karena apa? Karena pembaca membutuhkan segala cerita tentang mereka.

Satu hal yang perlu diingat, media bisa merekontruksi banyak hal menjadi nyata dan dibutuhkan pembaca (Dan Nimmo: 2011). Selain itu, politisi tampaknya perlu segera aktif di media sosial. Ingat mayoritas pemilih di Indonesia adalah digital native. Terakhir, perhatikan pesan komunikasi politik yang menarik. Sehingga framing yang dilakukan sesuai dengan umpan balik yang diberikan publik.

Daftar Bacaan

BBC Indonesia, KPU Sahkan Hasil Pemilu, PDIP Nomor Satu, 10 Mei 2014, http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/05/140509_rekapitulasi_kpu

Nimmo, Dan. Komunikasi Politik, Komunikator, Pesan dan Media. Rosda Karya, Bandung. 2011.

Sugiharto, Toto. Media Sosial dan Kampanye Politik. Harian Kompas. 29 Maret 2014. http://nasional.kompas.com/read/2014/03/29/1153482/%20Media.Sosial.dalam.Kampanye.Politik

DISAMPAIKAN PADA SEMINAR PENDIDIKAN POLITIK, PARTAI NASDEM ACEH UTARA, 14 NOVEMBER 2015

|MASRIADI SAMBO

You may be interested

Buku Pengantar Jurnalisme Multiplatform Cetak Ulang ke 2
BUKU
0 shares31 views
BUKU
0 shares31 views

Buku Pengantar Jurnalisme Multiplatform Cetak Ulang ke 2

masriadisambo - Des 02, 2018

Buku Pengantar Jurnalisme Multiplatform karya Masriadi Sambo (dosen Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh dan jurnalis Kompas.com) dan Jafaruddin Yusuf (Jurnalis Harian…

Di Tengah Desing Mesiu 
CATATAN
0 shares21 views
CATATAN
0 shares21 views

Di Tengah Desing Mesiu 

masriadisambo - Nov 09, 2018

  CERPEN : Masriadi Sambo |Republika | 4 November 2018   Kami duduk selonjor di teras rumah, setelah berziarah, ke…

MALANG [2]  Sehari Metik Apel di Kota Batu
TRAVEL
0 shares23 views
TRAVEL
0 shares23 views

MALANG [2] Sehari Metik Apel di Kota Batu

masriadisambo - Okt 25, 2018

Minggu, langit Kota Malang begitu cerah. Jam menunjukan pukul 08.00 WIB, ketika rombongan kami menumpangi bus pariwisata mulai bergerak dari…

Leave a Comment

Your email address will not be published.