Header Ad

Disabilitas dan Cerita Kesabaran Penyelenggara Pilkada

6 Februari 2017
100 Views

“AZHARI…Azhari,”  terdengar suara panitia memanggil nama Azhari dalam simulasi pencoblosan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Aceh di Yayasan Bina Upaya Kesehatan Para Catat, Banda Aceh, Sabtu (4/2/2017).

Panitia celingukan. Melihat ke kiri dan kanan. Namun, tak ada yang bangun dari tempat duduk penyandang disabilitas di yayasan tersebut. Seorang teman, yang duduk disamping Azhari mencolek lengannya.

Dia tak bisa mendengar atau tunarungu. Lalu, dia bangun menuju panitia. Mengambil kertas suara, berada dibilik suara, sejurus diam, mengamati, dan mencoblos. Kemudian, memasukan kertas suara itu ke kotak suara.

Selain Azhari, ada pula Suhaimi, tunarungu lainnya. Dia melangkah pasti menuju menja Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Tangannya bergerak. Sang petugas KPPS kelimpungan. Tersenyum walau tak bisa menyembunyikan wajah bingungnya. Sementara Suhaimi terus memberikan bahasa isyarat lewat tangan dan jarinya.

Drama kebingungan itu berakhir setelah Masamah, seorang pengajar di yayasan itu datang. Dia menjelaskan bahwa Suhaimi ingin menuliskan namanya. Mendaftar sebagai masyarakat yang akan memilih. Setelah itu, mereka pun tertawa.

“Artinya minta kertas, mau mencatat namanya sebagai pemilih,” kata Masamah.

Setelah itu, Suhaimi duduk mengantre, sedangkan Masamah menemani petugas dari Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh menerjemahkan isyarat tangan dari penyandang disabilitas lainnya.

Untuk Pilkada serentak kali ini, tercatat 7.138 penyandang disabilitas sebagai pemilih. Jumlah itu terdiri dari 2.561 tunadaksa, tuna netra sebanyak 1.044, tunarungu dan tuna wicara sebanyak 1.208, tunagrahita 1.609 dan disabilitas lainnya 716. Total daftar pemilih tetap Aceh sebanyak 3.431.582. Jumlah itu berasal dari 23 kabupaten/kota di Aceh tersebar di 289 kecamatan dan 6.477 desa plus 9.581 tempat pemungutan suara.

Berikutnya giliran Nova Sarah, penyandang tuna netra. Dia berjalan sangat pelan. Seorang petugas, Rizki Harin menuntunnya sembari menjelaskan letak meja bilik suara, dan kotak suara. Format simulasi itu didisain persis sama dengan tempat pemungutan suara pada hari pencoblosan 15 Februari 2017 mendatang.

Petugas lalu memberikan kertas suara template braille. Tangannya meraba kertas itu, lalu memutuskan memilih salah satu kandidat. Setelah itu dia mencelupkan kelingkingnya ke tinta. Sah. Nova telah memberi hak pilihnya.

“Saya mau ikut memilih. Kami harap, siapa pun yang menang nanti baik gubernur maupun wali kota Banda Aceh, mereka pemimpin yang amanah, dan memperhatikan kami,” harap Nova.

Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh, Ridwan Hadi, Senin (6/2/2017) mengakui lembaga yang dipimpinnya memastikan tempat pemungutan suara yang ramah untuk penyandang disabilitas. Misalnya, berada di tanah yang datar, sehingga memudahkan disabilitas berjalan.

“Sosialisasi untuk disabilitas telah dilakukan sejak November 2016. Bahkan, Dinas Sosial Aceh juga menggelar sosialisasi khusus disabilitas. Ini menandakan perhatian khusus kita pada disabilitas,” katanya.

Sosialisasi yang sama dilakukan oleh KIP ditingkat kabupaten/kota. “Mereka memiliki hak konstitusi, sama dengan kita. Tentu sosialisasi untuk mereka, sama gencarnya kami lakukan untuk mereka yang normal,”sebut Ridwan.

Saat pendataan pemilih, sambung Ridwan, memang terjadi kendala kecil. Misalnya, orang tua penyandang disabilitas sebagian tidak ingin anaknya masuk dalam daftar pemilih tetap Pilkada Aceh.

“Kami rayu, kami jelaskan. Ini kegigihan dan kesabaran para penyelenggara luar biasa. Saya apresiasi kesabaran dan kegigihan itu,” ujarnya.

Sementara, Ketua Pendataan Pemilih KIP Aceh, Fauziah menyebutkan dirinya rutin mengecek daftar pemilih masyarakat. “Termasuk penyandang disabilitas. Kami sudah maksimal, angka pemilih tetap itu sudah sangat maksimal,” katanya.

Ridwan Hadi mengingatkan agar petugas KPPS di seluruh Aceh bersikap sabar dan santun. Harus ekstra sabar dengan pemilih disabilitas. “Mereka harus tampil seperti disimulasi, sabar dan humoris. Jika tak mengerti bahasa isyarat, tanyakan pada yang mengerti, seperti disimulasi,” pungkasnya.  |MASRIADI

You may be interested

Di Tengah Desing Mesiu 
CATATAN
0 shares7 views
CATATAN
0 shares7 views

Di Tengah Desing Mesiu 

masriadisambo - Nov 09, 2018

  CERPEN : Masriadi Sambo |Republika | 4 November 2018   Kami duduk selonjor di teras rumah, setelah berziarah, ke…

MALANG [2]  Sehari Metik Apel di Kota Batu
TRAVEL
0 shares13 views
TRAVEL
0 shares13 views

MALANG [2] Sehari Metik Apel di Kota Batu

masriadisambo - Okt 25, 2018

Minggu, langit Kota Malang begitu cerah. Jam menunjukan pukul 08.00 WIB, ketika rombongan kami menumpangi bus pariwisata mulai bergerak dari…

MALANG [1]   Menyesap Oksigen, Menikmati Musik
CATATAN
0 shares30 views
CATATAN
0 shares30 views

MALANG [1] Menyesap Oksigen, Menikmati Musik

masriadisambo - Okt 22, 2018

UDARA dingin membakap Kota Malang, Sabtu (20/10/2018). Kami menyusuri Kota Malang menuju Jalan Sidomakmur, No 86, Letak Sari, Mulyoagung, Dau,…

Leave a Comment

Your email address will not be published.