Header Ad

Semalam di Awak Awai ….

3 Februari 2017
185 Views

Saya mengunjungi Awak Awai untuk kesekian kalinya. Malam ini, saya datang bersama Miswardi. Sekadar menghabiskan malam, sembari bersantap ikan.

LIMA mobil berjejer rapi di  Jalan T Nyak Arief, Simpang Mesra, Banda Aceh, Senin (30/1/2017). Jam menunjukan pukul 21.15 WIB. Sepanjang jalur di Desa Lamgugup, Kecamatan Syah Kuala, Banda Aceh itu dipenuhi warung. Semuanya menawarkan menu penganan ikan bakar. Namun, warung Awak Awai lah salah satu warung tertua di sana.

Kami disambut Marzuki, salah seorang pekerja senior di warung itu. Dia berdiri persis di depan tempat ikan segar. “Mau bawal, keurapu atau kakap?” tanya Marzuki.

Kami pun memilih-milih ikan segar itu. Harga ikan bervariasi, tergantung ukurannya. Dari harga Rp 30.000 hingga Rp 130.000 per ekor. Sebagian pengunjung terlihat bersama keluarganya. Menyantap penganan nan lezat itu.

Warung itu dirikan tahun 2005 lalu, sesaat setelah tsunami melanda provinsi yang dijuluki Serambi Mekkah itu. “Dulu pekerjanya hanya tiga. Saya salah satunya. Warung ini milik Pak Marwan,” ujar Marzuki ramah.

Dia pun terlihat senang ketika kami memotret. Setelah ikan dipilih, Marzuki lalu membersihkannya. Membawa pada lokasi pembakaran ikan tepat di sisi kanan warung itu. Sehingga, pengunjung bisa melihat proses ikan itu dipanggang.

“Kepala ikannya dibuat asam pedas, sedangkan badannya kita panggang saja,” kata Marzuki menawarkan menu pada kami.

Lalu, kami pun menyetujui menu yang ditawarkan. “Di sini, ada juga cumi-cumi dan udang. Enak juga. Ini andalan kami,?” kembali dia menawarkan.

Sekitar 30 menit ikan bakar pun dihidangkan. Pelayan juga menawarkan aneka jus untuk minuman pembuka sembari menunggu ikan selesai dibakar. Khusus untuk bumbu kecap, warung itu menyiapkan cabe rawit terpisah. Sehingga, jika kurang pedas, silakan menggiling cabe rawit itu dibalur kecap manis atau kecap asin.

Selain itu, disediakan juga cabai merah mentah. Di sini, aneka cabe tersedia. Lengkap dengan lalapan seperti wortel, timun dan kol. Khusus bumbu ikan asam pedas, warung ini menawarkan bumbu yang diracik menggunakan blender, dan batu giling biasa.

“Kalau pakai batu giling itu, bumbunya lebih nikmat,” kata Miswardi, seorang pengunjung asal Lhokseumawe. Namun, Anda harus datang sebelum lapar ke warung ini. Maklum, pengunjung yang ramai membuat pesanan terkadang kerap telat tiba. Butuh waktu satu jam menungu.

“Jika sudah lapar kemari, biar kering kelaparan kita,” sambung Miswardi sambil tertawa.

Pekerja lainnya, Andi Kusnandar, menyebutkan ikan segar itu dibeli dari para pedagang di Pasar Peunayong, Banda Aceh. Dalam sehari, minimal 15 ikan segar laku terjual.

“Kami buka dari pukul 11.00-23.00 WIB. Sebentar lagi tutup,” katanya. Malam kian larut, satu-satu pengunjung mulai meninggal lokasi itu. Sekali waktu mereka akan kembali, bersama keluarga atau tamu yang berkunjung ke Banda Aceh. Silakan mencoba. |MASRIADI SAMBO

 

You may be interested

Buku Pengantar Jurnalisme Multiplatform Cetak Ulang ke 2
BUKU
0 shares32 views
BUKU
0 shares32 views

Buku Pengantar Jurnalisme Multiplatform Cetak Ulang ke 2

masriadisambo - Des 02, 2018

Buku Pengantar Jurnalisme Multiplatform karya Masriadi Sambo (dosen Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh dan jurnalis Kompas.com) dan Jafaruddin Yusuf (Jurnalis Harian…

Di Tengah Desing Mesiu 
CATATAN
0 shares21 views
CATATAN
0 shares21 views

Di Tengah Desing Mesiu 

masriadisambo - Nov 09, 2018

  CERPEN : Masriadi Sambo |Republika | 4 November 2018   Kami duduk selonjor di teras rumah, setelah berziarah, ke…

MALANG [2]  Sehari Metik Apel di Kota Batu
TRAVEL
0 shares23 views
TRAVEL
0 shares23 views

MALANG [2] Sehari Metik Apel di Kota Batu

masriadisambo - Okt 25, 2018

Minggu, langit Kota Malang begitu cerah. Jam menunjukan pukul 08.00 WIB, ketika rombongan kami menumpangi bus pariwisata mulai bergerak dari…

Leave a Comment

Your email address will not be published.